Senin, 05 April 2010

54.641 Ha Kawasan Pegunungan Wonosobo Rawan Longsor

Kawasan pegunungan seluas 54.641 hektare (ha) di Wonosobo, Jawa Tengah amat rawan longsor. Kawasan ini berada di kemiringan antara 15 hingga 40 persen. 

"Lahan rawan longsor tersebut merupakan 56,37% dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Wonosobo," kata Bupati Wonosobo Kholik Arif, Selasa (16/3). 

Beberapa daerah lainnya yang berada di kemiringan lebih dari 40 persen, kata Kholik, juga rawan longsor. Kondisi ini, katanya, masih diperparah curah hujan tinggi yang selalu terjadi di Wonosobo, yakni rata-rata 3.400 mm. Curah hujan dan kemiringan ini, menurut Kholik, mendorong makin besarnya tingkat erosi lahan di Dataran Tinggi. 

"Selain ancaman tanah longsor, sejumlah daerah di Wonosobo juga terancam banjir, angin topan, dan gas beracun," katanya. 

Penyebabnya, kata Kholik, terjadi longsoran-longsoran di topografi ceruk daerah aliran sungai, terutama sekitar Tieng bagian hulu. Kemudian terjadi pelapukan batuan breksi gunung api yang membentuk soil-soil lapukan tipis. 

"Hal ini akibat pola pengolahan tanaman kentang. Sedangkan pemicu longsoran adalah curah hujan tinggi yang jatuh di kawasan Dieng dan Tieng bagian hulu," ujarnya. 

Untuk mengantisipasi bencana, lanjut Kholik, pihaknya aktif melakukan pembenahan lingkungan. Diantaranya dengan penanaman bibit. Tercatat, pihaknya telah menerima bantuan bibit dari BLH Provinsi Jawa Tengah meliputi bibit Saman 500 batang, Makadamia 750 batang, serta Carica 2.500 batang, dan dari Dinas Kehutanan Provinsi berupa bibit Saman 500 batang. 

Lainnya, dari Perhutani Wonosobo sebanyak 1000 batang bibit Bintami, 500 batang Keningar, beberapa bibit Pinus dan Puspa. 

Pemkab Wonosobo juga mengalokasikan bibit tanaman Kopi Arabika 1.000 batang. Kami juga menerima bantuan bibit Suren 1.000 batang dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat. Serta 2.500 batang bibit suren dari Dinas Kehutanan dan Perkebunanan. 

"Dua jenis sumur resapan juga telah dibuat oleh BLH Wonosobo untuk perbaikan drainase. Ini untuk mengurangi resiko banjir dan Longsor yang melanda Wonosobo," pungkasnya. (TS/OL-03)


Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/03/17/129783/124/101/54.641-Ha-Kawasan-Pegunungan-Wonosobo-Rawan-Longsor
17 Maret 2010

Wonosobo dan Dieng Kota Di Bawah Kabut



Pukul 5 sore,layaknya kota besar pasti rame karena hirukpikuk orang-orang yg bubaran kantor atau pulang kerja. Tapi,hal itu beda banget dengan kota wonosobo. Jam 5 hirukpikuk kegiatan kota sudah mulai kendor. Lapak2 mie ayam,konter Hp juga sudah mulai ditutup. Sebentar lagi kabut datang.
Tepat pukul 7malem, kota ini sudah sepi senyap. Orang tidak canggung mengenakan sarung atau syal di leher untuk menahan embun dingin yg menusuk hingga tulang.
Wonosobo ga hanya itu..
Mau tehe..???

Kurang lebih saya sudah menghabiskan 4 bulan dikota ini,kota yg kecil. Kita muter pake motor 2jam juga sudah puas dengan warna kota wonosobo. Aneh juga,saya punya kantor dibali dan mumbai..tapi semua di lakukan dibilik salah satu warnet di wonosobo. Dan saya ga habis pikir,orang malah bondong2 keluar dr kota wonosobo..hahha. Kota wonosobo punya beberapa hal yg unik….semoga ulasan saya bisa jadi referensi sampeyan buat main-main ke wonosobo.


Alun-alun wonosobo

Kata orang,klo main kejogja ga main kemalioboro itu namanya belom ke jogja. Nah sama juga kalo ke wonosobo,kalo ga mendarat atau makan jagung bakar sambil minum wedang jahe..itu namanya belom ke wonosobo. Sebagi catatan saja,alun-alun wonosobo adalah alun-alun yg paling bersih yg pernah saya jumpai. Rumputnya masih terawat secara profesioanl dan dilengkapi tempat duduk2. Tidak hanya itu,buat netter..lokasi alun-alun wonosobo free hostspot 24jam nonstop. Bahkan jika beruntung,banyak sekali wi-fi yg bocor. So…internet di wonosobo turah2…!!!


Carica
Banyak orang menyebutnya dengan pepaya,tumbuh hanya di daerah tropis. Beda dengan pepaya,buah ini hanya tumbuh dan bisa berbuah didaratan tinggi. Nah dieng adalah kawasan dataran tinggi cocok banget tumbuh dan berkembang. Anehnya,sampe saat ini aku belom nemu carica yg di budidaya. Carica hanya tumbuh bak rumput dan dibiarkan begitu saja. Carica tidak kurang enak jika di makan dalam kondisi matang seperti layaknya pepaya. Orang wonosobo meng-angkat buah ini dengan bungkusan yg lebih kreatif,maka munculah “manisan carica”. Oleh2 khas wonosobo yg bisa dijumpai dipusat2 oleh2 atau toko2 klontong diwonosobo. So,klo ente lihat manisan carica..semoga inget postingan saya ini.


Teh curbang

Kota ini emang aneh,dimana hal sulit adalah menemukan es teh ! diwonosobo emang es teh tidak di haramkan,tapi bener2 susah menemukan minuman yg bisa menyegarkan tenggorokan ini. Nah,paling sering dijumpai adalah Teh Curbang [red-mancur langsung abang/mancur langsung merah]. Rasa teh curbang bener2 beda,agak2 sepet,pait dan legit. Teh ini di produksi dari kawasan perkebunan teh tambi. Di warung atau pos ojek,teh curbang dan tempe kemul adalah menu wajib untuk menghangatkan badan. Sebab tahu sendiri,kabut di wonosobo bisa turun kapan saja. So..sebelom kamu mati..atau meninggal dunia…cobalah teh curbang..!!


Kentang
Selain pangalengan yg punya produksi kentang yg bisa ton2an, daratan tinggi dieng adalah salah satunya. Gunung2 di sulap jadi lahan kentang,boleh percaya boleh ga…jumlah produksi kentang dr dieng kurang lebih 100ton/hari. Kentang dari dieng punya daya tahan yg cukup dibanding kentang dari wilayah lain,karena kadar air yg tinggi dan juga kentang dari dieng ukurannya relatif besar2. Dan jenis kentang ini di sebut kentang granola. Ini saya sertakan foto saat masa nanam,itu di daerah garung-dieng bawah.


Candi dieng & Telaga warna :
Ga seperti candi-candi pada umumnya,kita kalo main ke candi pasti puanass. Beda dengan suasana candi didieng,kabut yg turun2 di lembah2 dan area perkebunan kentang membuat suasana berada di atas awan. Tidak jarang,kabut jam 12 siang langsung mendarat dengan sukses.
Candi di sini ada beberapa dan letaknya pisah2,maap..saya bukan ahli candi..jadi kurang etis kalo ngasih info soal candi. Tapi,pada dasarnya..keran kok. Ndak hanya itu,kawasan ini juga ada bbrp sumber gas alam yg digunakan untuk pembangkit listrik. Dan ada juga semburan gas yg ada muncul di kawasan danau,maka akan terlihat airnya ijo. Maka di sebutlah telaga warna. Asli..rugi banget kalo ga main ke sini.


Mitos :
Kebudayaan dieng juga aneh dan unik,contoh simpelnya..saat masa panen,ada bbrp hari pantangan.Misal hari selasa wage itu dilarang manen kentang. Atau rabu kliwon itu dilarang nanam kentang. Hal2 seperti itu masih bertahan sampe sekarang. Dan lucunya,di daerah kawasan candi dieng ada 7 orang yg bertapa [red-topo/semedi]. Kata warga di situ,orang yg semedi tadi kurang lebih sudah 27 tahun. Dan ada yg lucu,ada orang yg sedang semedi di pinggir jalan. Akhirnya pihak warga setempat memberi tenda [red-lihat gambar].


Wah,saya bukan orang asli dieng atau wonosobo..tapi,saya begitu suka dengan kultur dan budaya orang wonosobo..sederhana..ritme hidupnya teratur dan yg paling penting ADALAH HAWAHNYA SEJUKK..!!!
Mau traveling ke wonosobo..???
Contact2 aja ya..????

Salam

Pepeng
eScoret

Sumber :
http://escoret.net/blog/?p=1195
10 Juni 2009

Peta Wonosobo


View Larger Map

Sejarah Wonosobo

Bedasarkan cerita rakyat , pada sekitar awal abad 17 tersebutlah tiga orang pengelana masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik , mulai merintis suatu permukiman di daerah Wonosobo. Selanjutnya Kyai Kolodete berada di dataran tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di dekitar kota Wonosobo sekarang ini.

DI kemudian hari dikenal beberapa tokoh penguasa daerah Wonosobo seperti Tumenggung Kartowaseso sebagai penguasa daerah Wonosobo yang pusat kekuasaannya si Selomanik. Dikenal pula tokoh bernama Tumenggung Wiroduta sebagai penguasa Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Pecekelan - Kalilusi, yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok - Wonosobo atau Plobangan sekarang ini.

Salah seorang cucu Kyai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa Wonosobo. Cucu kyai karim tersebut dikenal sebagai i Singowedono yang telah mendapat hadiah satu tempat di Selomerto dari Keraton Mataram serta diangkat menjadi penguasa daerah ini namanya berganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa ini Pusat kekuasaan dipindahkan ke Selomerto. Setelah meninggal dunia Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di desa Pakuncen.

Selanjutnya pada masa perang Diponegoro ( 1825 - 1930 ) , Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro. Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Musbch atau kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, MAs Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Kyai Muhamad Ngarpah.

Dalam pertempuan melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu Pangeran Diponegoro memberi nama kepada Kyai Muhamad Ngarpah dengan sebutan Tumenggung Seconegoro. Selanjutnya Tumenggung Seconegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelas TUMENGGUNG SECONEGORO.

Eksistensi kekuasaan Seconegoro di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dinuat setelah perang Diponegoro selesai. Disebutkan pula bahwa Seconegoro adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan kota Wonosobo sekarang ini.

Dari hasil seminar AHri Jadi Wonosobo tanggal 28 April 1994, yang dihadiri oleh Tim Peneliti dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, Sespuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Pimpinan DPRD dan Pimpinan Komisi serta Instansi Pemerintah Wonosobo yang telah menyepakati bahwa Hari Jadi Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825.

Adapun penguasa/kepala pemerintahan Kabupaten Wonosobo dari tahun 1825 sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut :

1. Tumenggung R. Setjonegoro ( 1825 - 1832 )
2. Tumenggung R. MangoenKoesoemo ( 1832 - 1857 )
3. Tumenggung R. Kertonegoro ( 1857 - 1863 )
4. Tumenggung R. Tjokrohadisorjo ( 1863 - 1889 )
5. Tumenggung R. Soeryohadikoesoemo ( 1889 - 1898 )
6. Tumenggung R. Soerjohadinagoro ( 1898 - 1919 )
7. Adipati RAA Sosrodiprodjo ( 1920 - 1944 )
8. Bupati R. Singgih Hadipoero ( 1944 - 1946 )
9. Bupati R. Soemindro ( 1946 - 1950 )
10. Bupati R. Kadri ( 1950 - 1954 )
11. Bupati R. Oemar Soerjokoesoemo ( 1955 )
12. Bupati R. Sangidi Hadisoetirto ( 1955 - 1957 )
13. Kapala Daerah Rapingoen Wiombohadi Soedjono ( 1957 - 1959 )
14. Bupati R. Wibowo Helly ( 1960 - 1967 )
15. Bupati KDH Drs. R. Darodjat A.N.S ( 1967 -1974 )
16. Pj. Bupati KDH R. Marjaban ( 1974 - 1975 )
17. Bupati KDH Drs. Soekanto ( 1975 - 1985 )
18. Bupati KDH Drs. Poedjihardjo ( 1985 - 1990 )
19. Bupati KDH Drs. H. Soemadi ( 1990 - 1995 )
20. Bupati KDH Drs. Margono ( 1995 - 2000 )
21. Bupati KDH Drs. Trimawan Nugrohadi ( 2001 - 2005 )
22. Bupati KDH H.Abdul Kholiq Arif (2005 -

Sumber:

http://www.e-wonosobo.com/v3/index.php?option=com_content&view=article&id=388&Itemid=574

 

Lokasi Daerah dan Rute Ke Wonosobo

Lokasi Daerah

Secara geografi Kabupaten Wonosobo terletak antara 7o.11' dan 7o.36' Lintang Selatan, 109o.43' dan 110o.4' Bujur Timur. Kabupaten Wonosobo berjarak 120 Km dari ibu kota Propinsi Jawa Tengah dan 520 Km dari ibu kota negara (Jakarta) dengan ketinggian berkisar antara 270 meter sampai dengan 2.250 meter di atas permukaan laut.

Kabupaten Wonosobo merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Wilayah Wonosobo terletak dibagian tengah-tengah dan berbatasan dengan beberapa kabupaten tetangga; sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kendal dan Batang, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Magelang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan Purworejo, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kebumen.

Dengan kondisi alam yang sedemikian rupa, satau-satunya jenis angkutan untuk menuju Wonosobo hanyalah angkutan darat. Dahulu pernah ada kereta api jurusan Purwokerto, sekarang hanya tinggal rel-nya. Meskipun demikian, transportasi ke dan dari Wonosobo relatif ramai. Transporatsi dari luar kota dapat anda pilih, bis atau jenis travel. Namun banyak juga yang mencarter taxi dari Semarang atau Yogyakarta.


Rute Ke Wonosobo

Dari Semarang (Ibu kota Provinsi)

Di terminal antar kota Terboyo banyak terdapat bis yang melayani trayek Semarang - Purwokerto melalui Wonosobo. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Rutenya adalah :

(Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)

Dari Surakarta (Solo)

Walaupun tidak banyak bis langsung dari Solo ke Wonosobo namun ada beberapa perusahaan bis yang melayani trayek ini. Anda dapat mendapatkan bis tersebut di terminal Tirtonadi jurusan Solo-Purwokerto via Wonosobo. Jaraknya sekitar 180 km waktu tempuhnya kita-kira 6 jam. Jalurnya adalah :

(Solo-Kartasura) - (Boyolali-Ampel) - (Salatiga-Bawen- Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)

Dari Magelang

Jalur dari Magelang ini merupapakan jalur ke Wonosobo yang ramai. Kira-kira sepuluh menit sekali ada bis yang datang dan pergi. Bis terakhir kira-kira jam 19.00 berangkat dari terminal antar kota Magelang. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Jalurnya adalah :

(Magelang-Secang) - (Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)

Disamping itu, ada rute alternatif ke Wonosobo dari Magelang ini, terutama untuk mempersingkat jalan dari Borobudur-Wonosobo. Ada trayek micro bis langsung dari Magelang ke Wonosobo namun tidak sampai di kota Wonosobo, melainkan hanya sampai di Sapuran, salah satu Kecamatan di Wonosobo. Dari Sapuran ke Wonosobo jaraknya 18 km dan banyak sekali angkutan yang siap melayani anda. Jalur Borobudur-Wonosobo ini sering dijadikan alternatif travel Borobudur - Wonosobo.

Dari Purworejo

Jalur dari purworejo tidak terlalu ramai, baik ramainya kendaraan maupun pemukiman. Jalannya cukup baik namun berbelak-belok cukup tajam dan menanjak. Tidak ada bis besar yang melayani trayek ini, tetapi banyak micro bis yang beroperasi. Sejak terminal Purworejo pindah ke terminal baru, bis jurusan Wonosobo tidak masuk di terminal antar kota Purworejo. Micro bis jurusan Wonosobo biasanya mangkal di terminal lama atau di Purworejo Plaza. Jika anda dari arah Yogyakarta, silahkan turun di pertigaan Don Bosko, naik angkota dan turun di terminal lama atau di komplek Purworejo Plaza. Jarak Purworejo-Wonosobo sekitar 50 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam. Jalurnya adalah :

(Purworejo-Loano) - (Kepil-Sapuran-Kalikajar-Kertek-Wonosobo)

Jika anda naik kendaraan pribadi, harap hati-hati sebab jalur ini walaupun agak sempit, banyak truk yang biasanya mengangkut kayu.

Dari Yogyakarta

Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo. Namun karena jalur Yogyakarta - Magelang - Semarang sangat ramai, dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah. Dari terminal Umbulharjo, atau dari terminal Jombor, naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal antar kota Magelang, baru ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah :

(Yogyakarta-Sleman-Tempel) - (Muntilan-Magelang)
Selanjutnya ikuti jalur dari Magelang.

Dari Yogyakarta ke Wonosobo, disamping lewat Magelang, anda juga dapat lewat jalur Purworejo. Dari Terminal Umbulharjo atau Nggamping, naik bis jurusan Purworejo dan baru melanjutkan ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 jam. Rutenya adalah :

(Yogyakarta-Sentolo-Wates) - (Purworejo). Selanjutnya ikuti jalur dari Purworejo

Dari Purwokerto

Merupakan jalur yang ramai. Ada banyak bis yang melayani trayek ini. Untuk jalur ini, kira-kira setiap sepuluh menit ada bis yang datang dan pergi. Ada bis yang hanya melayani trayek Purwokerto-Wonosobo dan ada trayek Purwokerto-Semarang lewat Wonosobo. Anda bisa mendapatkan bis jurusan Wonosobo di terminal utama Purwokerto. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalurnya sebagai berikut:

(Purwokerto-Sokaraja) - (Purbalingga-Bukateja) - (Klampok-Banjarnegara) - (Selomerto-Wonosobo)

Dari Kebumen 

Meskipun masih langka, sebenarnya ada jalur langsung Wonosobo-Kebumen. Jalurnya berbelok-belok dan naik turun. Anda dapat mendapatkan bis jurusan Wonosobo-Kebumen di terminal antar kota Wonosobo namun hanya beberapa buah saja. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh sekitar 2.5 jam. Jalurnya sebagai berikut :

(Kebumen) - (Wadaslintang-Kaliwiro-Selomerto-Wonosobo)

Dari Jabodetabek

Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada yang terdiri dari berbagai perusahaan oto bis. Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal: Pl Gadung, Kp Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor. Dengan jarak 520 km, dari sekitar wilayah Jakarta, bis biasanya berangkat sekitar pukul 17 wib dan sampai di Wonosobo menjelang fajar.



Sumber:

http://www.wonosobokab.go.id/?m=geo2

21 Objek Wisata Dieng

Kawasan wisata Dieng di Jawa Tengah yang menyimpan tidak kurang dari 21 objek wisata (ow) alam masih menjadi wisata andalan bagi daerah ini untuk menyedot wisatawan nusantara maupun asing.

Puluhan objek wisata itu memiliki aneka ragam “atraksi alam” baik berupa telaga, gua, sumber air panas, air terjun, dan yang lainnya, sampai saat ini masih menjadi wisata andalan bagi Provinsi Jawa Tengah umumnya, dan Kabupaten Wonosobo serta Banjarnegara khususnya, kata Drs. Markun Sriyanto, pegiat pariwisata di Wonosobo, Rabu.

“Objek wisata alam di kawasan Dieng memang terdapat di dua kabupaten yakni Wonosobo dan Banjarnegara,” katanya ketika dihubungi dari Semarang.

Menurut dia, objek wisata alam yang ada di Kabupaten Wonosobo ada sekitar 12 objek, meliputi telaga warna, telaga pengilon, gua Semar, gua sumur, gua jaran, batu tulis/batu Semar, kawah sikendang, telaga cebong, air terjun sikarim, air terjun seloka, Gunung Sikunir dan telaga menjer.

Sedangkan objek wisata alam kawasan Dieng yang masuk Kabupaten Banjarnegara tak kurang dari sembilan objek meliputi Curug Sirawe, Kawah Sikidang, Telaga Balekambang, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Sumur Jalatunda dan Gua Jimat.

“Sampai saat ini semua objek wisata tersebut terus dikelola oleh masing-masing pemkab tersebut dengan baik, bahkan Dinas Pariwisata Jateng juga aktif memasarkan objek wisata yang ada di daerah ini,” katanya.

Karena itu tidak mengherankan jika Objek Wisata Dieng sampai sekarang terus diminati baik oleh wisatawan nusantara maupun asing, katanya.

Menurut dia, selain objek wisata alam, kawasan Dieng juga memiliki atraksi budaya berupa hasil olah budi manusia, misalnya seni pertunjukan tari Angguk, dan tradisi cukur rambut gembel serta beraneka ragam seni kerajinan.

Sedangkan peninggalan bersejarah meliputi kelompok Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Candi Gatotkaca, Candi Bima, watu kelir, tuk Bimolukar dan Ondho Buddho.[*ZON/ant]


Sumber:

http://matanews.com/2008/12/11/21-onjek-wisata-dieng/

11 Desember 2008

Mensederajatkan Dieng dengan Genting Highlands

Genting Highland yang merupakan puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysia menjadi tempat resort yang amat terkenal di dunia. Berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor Genting Highland dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala Lumpur. Di sana kita dapat memanfaatkan kereta gantung Genting Skyway (yang saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara) sembari menyaksikan pemandangan pegunungan Titiwangsa.

Keindahan Dieng Saja Tidak Cukup
Saya jadi merasa sangat iri sekaligus tidak habis pikir terhadap dunia pariwisata negeri kita ketika saya berkunjung ke Genting Highland, dan pikiran saya menerawang jauh membandingkan dengan kondisi Dieng. Mengapa dengan kondisi geografis yang hampir sama, bahkan Dieng memiliki keunggulan wisata historis dengan candi-candi dan juga aneka keunikan alamnya, tak mampu untuk sejajar dengan Genting Highland sebagai tujuan wisata?

Ternyata keunggulan Genting Highland yang didirikan oleh Lim Goh Tong dari Fujian, China di awal tahun 1960-an, dan tidak dimiliki oleh Dieng, ada pada sarana dan prasarana penunjang yang menjadikan wisatawan betah untuk tinggal dan menghamburkan uangnya di Genting Highland.

Sehingga, bisa dikatakan objek wisata yang indah saja tidak cukup, namun perlu pula fasilitas penunjang lainnya. Karena di Genting Highland, terdapat beberapa hotel seperti Hotel Genting, Hotel Highlands, Hotel Resort, Hotel Theme Park, Awana Genting, dan Hotel First World yang tentu saja menjadikan wisatawan betah untuk berlama lama berwisata di sana. Bahkan, Hotel First World yang nota bene dibangun diketinggian 2000 meter diatas permukaan laut, memiliki 6.118 kamar, yang menjadikannya sebagai hotel kedua terbesar di dunia saat ini. Bandingkan dengan Dieng, bahkan Hotel kelas melati pun jarang kita temukan.

Fasilitas lain yang ada di sana dan menjadi tujuan utama wisatawan adalah keberadaan theme park, lapangan golf, mal perbelanjaan, simulator sky diving, hall konser dan masih banyak lagi. Sebuah hal yang tak pernah kita jumpai di Dieng. Maka tidaklah mengherankan jika Genting Highlands dipilih menjadi World's Leading Casino Resort in Nov 2005 oleh World Travel Awards.

Perbandingan di atas tentu saja menjadikan derajat dataran tinggi Dieng jauh berada di bawah Genting Highland. Sehingga, kesimpulan saya, Dieng sebenarnya mempunyai potensi yang sama untuk dijadikan pariwisata yang berkelas dunia laiknya Genting Highland. Dengan syarat tentunya, Dieng harus memiliki fasilitas-fasilitas sebagaimana yang genting Highland miliki guna “menawan” para wisatawan untuk berlama-lama menghabiskan uangnya.

Jika melihat potensi yang begitu besar pad objek wisatya Dieng, seharusnya pemerintah tidak segan-segan untuk mengucurkan investasinya dibidang pariwisata ke Dieng. Atau, jika memang tidak mampu, pihak swasta seharusnya juga mampu digandeng untuk bersama-sama mewujudkan sektor pariwisata berkelas dunia. Bahkan jika kita melihat segi workable-nya, Dieng untuk dikembangkan dan dibangun sarana dan prasarananya, akan lebih mudah ketimbang Genting Highland yang topografinya relatif lebih curam.

Hanya saja, adakah kemauan para pemangku kebijakan di dua daerah tersebut (Banjarnegara dan Wonosobo) yang mau berfikir dan berangan-angan menjadikan Dieng sederajat dengan Genting Highland? Sudah saatnya kita memiliki objek wisata berkelas dunia.

Heni Purwono, Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro. Peserta Student Exchange Aktivis Mahasiswa Depdiknas ke Malaysia

Sumber:
http://citizennews.suaramerdeka.com/?option=com_content&task=view&id=604
14 Januari 2009